Lanjutan perkembangan Ken, anak autis, yang rutin minum Fit Brain

Image may contain: 1 person, smiling, drink
Ken dan catatan jawaban soal yang diberikan guru.

 

Perkenankan kami ulangi sekilas posting terdahulu tentang Ken (bukan nama sebenarnya), 10 tahun, di kelas III SD yang mampu menulis tegak bersambung setelah 3 minggu minum Fit Brain. Tanpa bantuan guru dan bundanya.Ken tinggal kelas di kelas I. Guru akhirnya menaikkannya ke kelas II dan kemudian ke kelas III, walau kemampuan akademis / kognitifnya kurang sekali. Dia telah minum Fit Brain 3 minggu ini, tiap hari 1 sendok teh. Pada minggu pertama, ada biji darah yang keluar waktu batuk-batuk.

Setelah 3 minggu konsumsi Fit Brain, tiba-tiba Ken mampu menulis tegak bersambung.

Hasil penilaian guru terhadap PR-nya menunjukkan bertambahnya jawaban yang benar. Masih ada beberapa kekeliruan tapi itu pun biasa dilakukan anak normal.

Kata bundanya, perkembangan pesat yang membuat ia mandiri dalam menulis tegak bersambung ini karena kerja Fit Brain.

Kami kenal Ken dan suka tegur anak-anak sebaya teman bermainnya bila mereka tak mau berteman dengan dia. Setelah minum Fit Brain kami ajak dia dan teman-temannya berenang di Ocean Park, kolam renang di BSD (Bumi Serpong Damai) yang ada kolam arus. Ia amat gembira bermain di kolam arus.

Waktu mengembalikan buku-buku PR dan catatannya, kami memberinya apresiasi dan mendorong semangatnya, “Sekarang Ken sudah pintar!”

LANJUTAN PERKEMBANGAN KEN, ANAK AUTIS

Ken terus mengkonsumsi Fit Brain, hanya 1 sendok teh tiap hari. Kini ia sudah naik ke kelas IV dan usianya telah mencapai 11 tahun.

Perkembangan kemampuan menulis tegak bersambung meningkat. Nilai-nilai rapor selama di kelas III lebih baik daripada di kelas II.

Tingkat keusilannya di sekolah jauh menurun. Ia tidak suka mengganggu lagi teman-temannya. Namun, teman-temannya yang malah suka mem-bully dia. Biasanya ia melapor kepada guru bila terus diganggu teman-temannya.

Perilaku di rumah jauh berubah. Ia sudah bisa membuat lucu dengan neneknya, menyisir rambut neneknya.

Ia pun sudah semakin mampu melayani pembeli yang membeli di kios di rumahnya. Bertahap ia mengerti memberi uang kembalian koin Rp500, uang kertas Rp1000, Rp2000, Rp5000, Rp10 000, Rp20 000. Bila mengalami kesulitan, ia bertanya kepada ibunya.

Pada malam hari ketika menutup kios, ia sudah bisa membenahi barang jualan dengan memasukkan ke kardus-kardus. Bertahap ia diberi tugas dan tanggung jawab.

Tubuhnya sehat dan senang bersepeda. Dan, paling rajin ke sekolah. Jarang sekali membolos. Ia tidak masuk sekolah bila benar-benar sakit. Bravo, hidup, Ken!

 

Leave a Reply